DRAG
minangkabau seremban

Sahabatholidays.com – Pernahkah Anda membayangkan berjalan-jalan di luar negeri, namun merasa seolah-olah sedang berada di halaman rumah sendiri? Bahasa yang terdengar akrab di telinga, atap-atap bangunan yang runcing menjulang ke langit, hingga cita rasa masakan yang pedas bersantan. Pengalaman deja vu inilah yang akan Anda rasakan ketika berkunjung ke Seremban, ibu kota Negeri Sembilan, Malaysia.

Hubungan antara Minangkabau Seremban bukanlah sekadar kemiripan kebetulan. Ini adalah ikatan darah, sejarah, dan budaya yang terjalin selama berabad-abad. Seremban dan Negeri Sembilan sering dijuluki sebagai “Serambi Minang” atau “Tanah Mengandung Adat” di Semenanjung Malaya.

Bagi masyarakat Sumatera Barat, Seremban adalah bukti sukses terbesar dari tradisi merantau. Bagi wisatawan, ini adalah destinasi unik untuk melihat bagaimana budaya Minang berevolusi dan beradaptasi di tanah seberang.

Artikel ini akan mengajak Anda menelusuri lorong waktu, mengungkap sejarah Kerajaan Pagaruyung di Malaysia, hingga kemegahan arsitektur yang menjadi saksi bisu persaudaraan dua negara.

Sejarah Migrasi – Merantau Menyeberangi Selat Malaka

Kisah Minangkabau Seremban bermula jauh pada abad ke-15 dan 16. Saat itu, nenek moyang orang Minang dari dataran tinggi Sumatera Barat (Luhak Nan Tigo) mulai melakukan migrasi besar-besaran menyeberangi Selat Malaka menuju Semenanjung Tanah Melayu.

Mereka tidak datang untuk menjajah, melainkan untuk membuka lahan pertanian dan berdagang. Kelompok perantau ini kemudian bermukim di sembilan daerah (nagari) yang kemudian bersatu membentuk konfederasi yang disebut Negeri Sembilan.

Baca Juga: Apa Itu Minangkabau? Mengupas Sejarah & Budaya Matrilineal!

Permintaan Raja dari Pagaruyung

Puncak hubungan emosional antara Minangkabau dan Negeri Sembilan terjadi pada abad ke-18. Saat itu, masyarakat Minang di Negeri Sembilan merasa butuh seorang pemimpin yang berdaulat dan paham akan adat leluhur mereka.

Alih-alih mengangkat raja dari kalangan sendiri atau tunduk pada Kesultanan Johor, mereka melakukan hal yang luar biasa: Mengirim utusan pulang ke kampung halaman, ke Istana Pagaruyung di Sumatera Barat, untuk memohon kepada Sultan Pagaruyung agar mengirimkan seorang pangeran untuk menjadi raja di Negeri Sembilan.

Sultan Pagaruyung mengabulkan permintaan itu dan mengirimkan Raja Melewar. Pada tahun 1773, Raja Melewar dinobatkan sebagai Yang di-Pertuan Besar Negeri Sembilan yang pertama. Inilah tonggak sejarah mengapa sistem kesultanan di Negeri Sembilan sangat berbeda dengan negara bagian lain di Malaysia, dan mengapa jejak Minangkabau Seremban begitu kental hingga hari ini.

Adat Perpatih Satu-satunya di Malaysia

Jika Anda bertanya apa bukti terkuat pengaruh Minangkabau Seremban, jawabannya adalah hukum adat. Malaysia secara umum menganut Adat Temenggung (Patrilineal/Garis Bapak) yang umum di budaya Melayu. Namun, khusus di Negeri Sembilan, mereka menganut Adat Perpatih.

Adat Perpatih ini adalah saudara kembar dari Adat Minangkabau.

1. Matrilineal

Garis keturunan ditarik dari pihak ibu. Suku anak mengikuti suku ibunya.

2. Sistem Suku

Masyarakat Negeri Sembilan masih memiliki sistem suku (klan) seperti Biduanda, Paya Kumboh (Payakumbuh), Tanah Datar, dan Seri Lemak (Sarilamak). Nama-nama suku ini jelas merujuk pada nama tempat di Sumatera Barat.

3. Pemilihan Pemimpin Demokrasi

Raja di Negeri Sembilan (Yang di-Pertuan Besar) tidak mewariskan tahta secara otomatis dari ayah ke anak seperti sultan lain. Raja dipilih oleh Undang (Empat Datuk Lembaga), mirip dengan konsep Rajo Tigo Selo di Minangkabau yang demokratis.

Keunikan ini menjadikan Negeri Sembilan sebagai laboratorium budaya yang hidup, di mana nilai-nilai Minangkabau dilestarikan dengan sangat baik di negara asing.

Arsitektur Kota – Atap Gonjong di Langit Seremban

Ketika Anda memasuki kota Seremban, mata Anda akan langsung dimanjakan oleh pemandangan yang familiar. Identitas Minangkabau Seremban terpampang nyata pada arsitektur bangunan pemerintah dan fasilitas publiknya.

Pemerintah Negeri Sembilan sangat bangga dengan warisan Minang mereka. Atap Gonjong (tanduk kerbau) yang menjadi ciri khas Rumah Gadang diadopsi menjadi identitas kota.

  • Wisma Negeri – Kantor pusat pemerintahan ini memiliki atap gonjong modern yang megah.

  • Muzium Negeri Sembilan – Terletak di Seremban, museum ini berbentuk seperti Rumah Gadang kayu tradisional (Istana Ampang Tinggi). Di sini tersimpan artefak-artefak yang menceritakan perjalanan perantau Minang.

  • Tiang Lampu Jalan – Bahkan detail kecil seperti tiang lampu jalan dan halte bus di Seremban sering kali dihiasi ornamen gonjong atau ukiran khas Minang (Kaluak Paku).

Bahasa dan Dialek – “Apo Kono Eh Jang?”

Salah satu hal yang paling menghibur saat membahas Minangkabau Seremban adalah bahasanya. Masyarakat Negeri Sembilan berbicara dalam dialek Melayu Negeri Sembilan (Logat Nogori).

Dialek ini terdengar seperti perpaduan unik antara Bahasa Melayu Malaysia standar dengan Bahasa Minangkabau.

  • Bunyi “A” menjadi “O” – Mirip dengan dialek Minang di daerah 50 Kota atau Pariaman. Contoh: “Apa” menjadi “Apo”, “Siapa” menjadi “Siapo”.

  • Kosakata – Banyak kosakata Minang yang masih dipakai, seperti den (saya/aku) yang berasal dari aden, dan jang (panggilan untuk laki-laki) yang mirip dengan buyung atau ujang.

Mendengar percakapan di pasar Seremban akan membuat orang Sumatera Barat tersenyum simpul karena merasa familiar namun dengan cengkok yang sedikit berbeda.

Kuliner – Masak Lemak Cili Api vs Gulai Padang

Hubungan Minangkabau Seremban juga terjalin erat di atas piring makan. Jika Sumatera Barat terkenal dengan “Gulai” dan “Rendang”, maka Negeri Sembilan terkenal dengan Masak Lemak Cili Api (Cili Padi).

Secara visual, Masak Lemak mirip dengan gulai Minang: kuah santan kuning yang kental. Namun, tingkat kepedasannya luar biasa. Orang Negeri Sembilan, seperti saudara mereka di Minangkabau, adalah pecinta pedas sejati (Padeh).

Perbedaan utamanya terletak pada bumbu. Gulai Minang di Sumatera Barat cenderung menggunakan rempah yang sangat kompleks (lengkuas, jahe, ketumbar, jintan, dll). Sementara Masak Lemak Negeri Sembilan cenderung lebih minimalis, menonjolkan kekuatan rasa kunyit hidup, santan segar, dan cabai rawit yang sangat banyak.

Namun, Rendang tetaplah Rendang. Di Seremban, Anda juga bisa menemukan Rendang (sering disebut Rendang Minang atau Rendang Nogori) yang dimasak kering dan hitam, persis seperti di Payakumbuh atau Bukittinggi, terutama saat Hari Raya.

Mengapa Anda Harus Peduli dengan Koneksi Ini?

Bagi wisatawan atau pecinta budaya, memahami hubungan Minangkabau Seremban membuka mata kita tentang betapa hebatnya peradaban Nusantara di masa lalu. Batas negara (Indonesia dan Malaysia) adalah batas politik modern, namun batas budaya melampaui sekat-sekat tersebut.

Melihat budaya Minang yang tumbuh subur di negara lain memberikan rasa bangga tersendiri. Ini membuktikan bahwa filosofi “Dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” benar-benar dipraktikkan oleh para leluhur. Mereka mampu beradaptasi, dihormati, bahkan diminta menjadi raja di negeri orang, tanpa kehilangan jati diri aslinya.

Napak Tilas Akar Budaya Bersama Sahabat Holidays

Setelah mengetahui betapa kentalnya pengaruh Minangkabau di Seremban, Malaysia, mungkin timbul rasa penasaran di hati Anda: “Seperti apa rupa negeri asalnya?”

Jika Seremban adalah “cabang” yang indah, maka Sumatera Barat adalah “akar” yang kokoh.

Untuk memahami Adat Perpatih di Seremban secara utuh, Anda harus melihat Adat Minangkabau di sumbernya. Untuk mengagumi Istana Sri Menanti, Anda harus membandingkannya dengan kemegahan Istana Basa Pagaruyung yang asli.

Sahabat Holidays mengundang Anda, baik wisatawan Indonesia maupun wisatawan Malaysia (khususnya dari Negeri Sembilan), untuk melakukan perjalanan Wisata Jejak Serumpun.

Kami menyediakan paket perjalanan khusus yang menghubungkan sejarah ini:

  • Kunjungan ke Istana Pagaruyung – Melihat tempat asal Raja Melewar dikirim ke Negeri Sembilan.

  • Eksplorasi Desa Adat – Melihat kehidupan asli masyarakat matrilineal di Pariangan atau Saribu Rumah Gadang.

  • Wisata Kuliner Otentik – Membandingkan rasa Masak Lemak dengan Gulai Itiak Lado Mudo atau Rendang Runtiah asli Payakumbuh.

Bagi saudara kami dari Negeri Sembilan, ini adalah perjalanan “Balik Kampung” untuk melihat tanah leluhur (Ranah Bundo). Bagi wisatawan Indonesia, ini adalah perjalanan untuk menyadari kebesaran budaya bangsa sendiri.

Jangan biarkan sejarah hanya tertulis di buku. Mari saksikan dan rasakan sendiri hubungan persaudaraan ini.

Kunjungi situs resmi kami di sahabatholidays.com untuk merencanakan perjalanan budaya Anda. Kami siap melayani dengan keramahan khas Minangkabau yang, seperti yang Anda tahu, sudah mendunia.

WhatsApp

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *